Halaman

Tampilkan postingan dengan label Dunia Apologetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Apologetika. Tampilkan semua postingan

Apologetika Masih Relevan Saat Ini?


Sekarang ini banyak orang yang otomatis menyamakan apologetika dengan debat yang cenderung kasar dan mengandung unsur kebencian, permusuhan, dsb, sebab ada begitu banyak orang yang berapologetika tidak tahu, melupakan, atau mengabaikan aturan untuk berapologetika dengan baik dan benar sesuai yang tertulis dalam 1 Petrus 3:15-16. Kita diajarkan untuk berapologetika dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni. Namun, kenyataannya orang-orang yang beropologetika sering kali sulit menahan emosi dan terpancing untuk berkata kasar dan menghina, kasih dan rasa saling menghargai itu seperti hilang.

Berdasarkan kenyataan itu maka kebanyakan orang merasa lebih tenang/damai jika tidak berapologetika, atau mungkin karena mereka memang merasa tidak percaya diri untuk berapologetika dan ada ketakutan/kekhawatiran dipermalukan ketika mereka berapologetika, atau juga mungkin karena mereka memang malas untuk belajar dan memperdalam imannya,  dll. Banyak juga orang yang tidak suka melihat orang berapologetika dan terlibat dalam diskusi/debat karena adanya kata-kata kasar, penghinaan, dsb, sehingga terasa seperti ada unsur kebencian, permusuhan, dsb, seperti tidak ada kasih di dalamnya. Apalagi jika itu disaksikan oleh orang-orang Kristen khususnya Katolik yang sudah kental dengan ajaran kasih dalam semangat Konsili Vatikan II yang lebih inklusif/terbuka dengan dunia luar. Mereka lebih menyukai ketenangan/kedamaian dan kerukunan daripada keributan dan perpecahan karena membela iman. Malahan ada orang-orang yang beranggapan bahwa agama itu justru menjadi sumber perpecahan, terutama bagi mereka yang atheis dan agnostik.

Oleh sebab itulah maka cara berapologetikanya harus diperbaiki supaya semakin baik dan dewasa. Penting juga untuk tidak menganggap orang yang memiliki kepercayaan berbeda sebagai musuh, kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang sangat berat sehingga kita harus mewaspadainya; contohnya orang yang sudah sangat membahayakan nyawa orang lain, dia sering menyebarkan tuduhan, fitnah dan provokasi yang berpotensi terjadinya permusuhan dan kerusuhan. Akan tetapi, jangan lupa ajaran Yesus untuk mengasihi dan mendoakan musuh itu ada, tertulis dalam Alkitab. Ini memang ajaran yang paling berat untuk dilakukan oleh para Pengikut Yesus Kristus yang setia.

Untuk menjadi semakin baik dan dewasa dalam berapologetika memang butuh proses. Cara penyampaian, atau kata-kata dalam berapologetika harus dikemas secara lebih baik dan sopan. 
Kita mungkin juga terbawa dengan situasi dan lingkungan di saat berdiskusi dengan orang lain. Ketika kebanyakan orang mulai saling berkata kasar atau menghina, kita jangan ikut-ikutan dan menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar. Emosi itu harus dijaga, sebab biasanya memang ada orang yang akan memancing emosi kita sehingga kita tersinggung, menjadi emosi/marah, dan kemudian mengeluarkan kata-kata kasar. Kita jangan terpancing untuk menghina karena menghina itu merupakan hal yang mudah, yang bisa dilakukan semua orang. 

Kebanyakan manusia memang mudah merasa tersinggung dan akan membalas hinaan dengan hinaan karena manusia mempunyai dosa warisan dari manusia pertama, yaitu kesombongan. Namun, jika kita mampu menunjukan kesabaran, kesopanan, etika kita lewat kata-kata yang elegan; di situlah kita mampu menunjukkan kualitas diri kita, level kita yang sebenarnya, yang berbeda dari orang-orang yang suka menghina. Jika mereka terus menghina, berikan peringatan yang sopan, tetapi tegas. Jika mereka masih terus mengabaikan peringatannya, kita bisa saja mengabaikan atau tidak menanggapi mereka lagi. Dalam dunia maya atau media sosial, kita bisa memblokir atau melaporkan mereka jika sudah sangat mengganggu dan membahayakan diri kita dan orang lain. Kita memang seringkali berhadapan dengan orang-orang yang tidak punya niat untuk berdiskusi atau mencari tahu, tetapi niatnya cuma untuk menghina, memfitnah, dan menjatuhkan, atau cuma untuk membuat keributan dan perpecahan. Jangan menurunkan derajat kita dengan membalas penghinaan dengan penghinaan, sehingga terjadilah debat kusir yang tidak berujung dan tidak berkesimpulan.

Saya tahu dan sadar bahwa untuk berapologetika dengan lemah lembut, hormat, dan dengan hati nurani yang murni tidaklah mudah, tidak semudah apa yang dikatakan. Akan tetapi, teori ini bukan tidak mungkin untuk dipraktikkan. Ketika seseorang berapologetika dan terjun langsung dalam diskusi dengan orang yang berbeda keyakinan, justru yang terjadi di lapangan sering kali berbeda dengan teori. Orang yang terlibat langsung dalam diskusi sering terpancing emosinya dan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Oleh sebab itu, diperlukan latihan yang berulang kali dalam diskusi jika kita punya niat baik untuk memperbaiki cara kita berapologetika dengan baik dan benar. Niat untuk memperbaiki diri itu biasanya muncul ketika kita sadar dan dengan rendah hati mengakui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama berapologetika. 

Saya sebenarnya sangat senang melihat orang-orang Katolik yang berapologetika karena apologetika masih sangat relevan hingga saat ini mengingatkan banyaknya tuduhan-tuduhan dan berbagai fitnah terhadap Gereja Katolik. Mereka yang suka berapologetika berarti mereka itu terpanggil dan berani untuk membela atau mempertanggungjawabkan iman mereka. Ini sebenarnya merupakan hal yang baik selama tujuannya baik dan dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Apologetika juga berguna untuk menangkal ajaran-ajaran sesat. Akan tetapi, itu sebaiknya dilakukan sesuai dengan apa yang tertulis dalam 1 Petrus 3:15-16, yaitu haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni.

Dengan berapologetika, kita tidak hanya membela iman kita dengan argumen-argumen yang rasional atau logis, tetapi kita juga melatih kepribadian kita untuk semakin dewasa, sabar, rendah hati, mudah mengampuni, tahu etika, pintar mengelola emosi/kemarahan (anger management), dsb. Orang yang berpengetahuan semakin besar seharusnya dibarengi dengan iman yang semakin dalam dan moral yang semakin baik. Damai itu dimulai dari diri sendiri sebelum mengharapkan orang lain berdamai dengan kita. Hargai orang lain terlebih dahulu sebelum kita mengharapkan diri kita dihargai orang lain. Semuanya sangat mungkin terjadi dengan kasih. Terima kasih, Tuhan memberkati 🙏

Gereja Katolik Tidak Menyembah Patung Bagian II (Akhir)

Tuduhan terhadap Gereja Katolik yang menyembah patung bisa terjadi karena dua hal, yaitu: 

Pertama, karena ketidaktahuan. 
Kedua, karena kesengajaan. 

Penjelasan harus kita berikan bagi mereka yang tidak tahu agar menjadi tahu. Namun, kita tidak perlu repot-repot menjelaskan bagi mereka yang sudah tahu, tetapi tetap berulang kali sengaja menuduh Gereja Katolik menyembah patung, karena mereka memang memiliki tujuan tertentu yang tidak baik. Kebencian, keirihatian, dsb, bisa menjadi penyebab mereka terus menuduh Gereja Katolik menyembah patung, meskipun mereka sudah tahu bahwa "Gereja Katolik tidak menyembah patung".

Kita harus mempertanggungjawabkan iman Katolik kita, iman kita akan Yesus Kristus, ketika ada orang-orang yang bertanya atau salah memahami iman kita; tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni (1Petrus 3:15-16). Kita semua diharapkan bisa berapologetika di manapun kita berada untuk menangkal semua tuduhan dan fitnah terhadap Gereja Katolik. Jangan takut atau malu berapologetika. Mari kita terus wartakan kebenaran. Terima kasih. Tuhan memberkati! 🙏

"To God be the glory!"

Silahkan simak penjelasannya dalam video di bawah ini.


Gereja Katolik Tidak Menyembah Patung Bagian I:

Gereja Katolik Tidak Menyembah Patung Bagian I

Tuduhan terhadap Gereja Katolik yang menyembah patung bisa terjadi karena dua hal, yaitu: 

Pertama, karena ketidaktahuan. 
Kedua, karena kesengajaan. 

Penjelasan harus kita berikan bagi mereka yang tidak tahu agar menjadi tahu. Namun, kita tidak perlu repot-repot menjelaskan bagi mereka yang sudah tahu, tetapi tetap berulang kali sengaja menuduh Gereja Katolik menyembah patung, karena mereka memang memiliki tujuan tertentu yang tidak baik. Kebencian, keirihatian, dsb, bisa menjadi penyebab mereka terus menuduh Gereja Katolik menyembah patung, meskipun mereka sudah tahu bahwa "Gereja Katolik tidak menyembah patung".

Kita harus mempertanggungjawabkan iman Katolik kita, iman kita akan Yesus Kristus, ketika ada orang-orang yang bertanya atau salah memahami iman kita; tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni (1Petrus 3:15-16). Kita semua diharapkan bisa berapologetika di manapun kita berada untuk menangkal semua tuduhan dan fitnah terhadap Gereja Katolik. Jangan takut atau malu berapologetika. Mari kita terus wartakan kebenaran. Terima kasih. Tuhan memberkati! 🙏

"To God be the glory!"

Silahkan simak penjelasannya dalam video di bawah ini:


Gereja Katolik Tidak Menyembah Patung Bagian II (Akhir):

Pengikut Yesus atau Pengikut Israel?


Saat ini masyarakat kembali lagi disuguhkan dengan berita konflik berdarah antara Israel dan Palestina. Konflik ini memang sudah berlangsung lama dan sudah menimbulkan cukup banyak korban jiwa termasuk anak-anak. Ada yang mati-matian membela Israel dan ada yang mati-matian membela Palestina karena terprovokasi oleh isu agama, ada yang bersikap netral dan menghendaki perdamaian dengan alasan kemanusiaan, tetapi ada juga yang cuek atau tidak peduli. 
Saya akan membahas hal ini dari kacamata saya sebagai umat Kristen, pengikut Yesus, dan lebih fokus pada umat Kristen dan Israel. 

Sebagai orang Kristen, kita mungkin memiliki kecenderungan berpihak pada Israel. Ketika berbicara tentang Israel, kita seperti terkoneksi secara otomatis dengan kepercayaan kita sebagai umat Kristen. Sebab, dalam Alkitab bangsa Israel disebutkan sebagai bangsa pilihan Allah dan dari bangsa itu lahir Sang Mesias yaitu Yesus Kristus. Kata Israel dan Yerusalem sering disebut atau didengar oleh kita ketika Alkitab dibacakan, khotbah dibawakan, dan lagu/mazmur dinyanyikan, sehingga tersimpan dalam pikiran dan alam bawa sadar kita. Semua itu kemudian menghasilkan rasa cinta atau rasa memiliki (sense of belonging) pada Israel, seperti yang kita rasakan pada gereja atau agama kita. Kita merasa menjadi bagian dari Israel dan ikut bangga dengan keberhasilan Israel. Kita akan dengan mudah berempati terhadap Israel dalam perjuangannya, dan antipati terhadap musuh Israel khususnya Palestina. 

Konflik ini menjadi hal yang sangat sensitif ketika mulai dihubungkan dengan agama. Israel mewakili agama Kristen dan Palestina mewakili agama yang lain. Apalagi ketika sudah ada potensi kekecewaan, kebencian atau fobia terhadap agama tertentu yang disebabkan oleh teror, dll, adanya ketidaktahuan atau pemahaman yang salah akan isi Kitab Suci, dan yang paling parah ketika kita dengan mudahnya terprovokasi oleh isu agama di medsos atau narasi agama yang dipolitisasi oleh pihak tertentu.
Padahal, konflik ini sebenarnya terjadi karena politik perebutan wilayah kekuasaan, bukan karena agama. Di Israel, umat Kristen itu hanya minoritas, hanya sekitar 2 persen dari total populasi Israel. Di Palestina juga ada umat Kristennya, meskipun hanya 1 persen dari total populasi Palestina.

Jika kita tidak menyadari atau menolak fakta di atas, tentu akan mempengaruhi cara berpikir kita menjadi lebih subjektif dan mengesampingkan kebenaran. Kita menjadi sangat mudah mengatakan Israel benar, tetapi sulit untuk menerima dan mengatakan Israel salah, meskipun mereka berbuat salah. Namun, saya pribadi mencoba untuk keluar dari bingkai Israel dalam Perjanjian Lama, agar bisa melihat kebenaran dari sudut pandang ajaran Yesus dalam Perjanjian Baru.

Saya teringat pada tahun 2017, saya pernah mengajukan pertanyaan dan keberatan di media sosial atas konflik berdarah yang terjadi antara Israel dan Palestina selama ini.
Pertanyaan dan keberatan saya seperti ini:

Apakah Yesus senang atau tidak dengan perang, pembunuhan, dsb, yang terjadi antara Israel dan Palestina? Apakah yang dilakukan Israel benar atau tidak? Soalnya ada umat Kristen yang terlalu memuji-muji Israel dalam peperangan.

Ini menjadi konflik batin bagi saya karena di satu sisi, dalam Kitab Suci Perjanjian Lama Israel disebutkan sebagai bangsa pilihan Allah. Tetapi di sisi lain, Israel melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Ya jelas saja, Yesus sendiri pun dibunuh oleh bangsanya sendiri, dan hingga sekarang mayoritas penduduk Israel beragama Yahudi bukan Kristen.

Bagi saya pribadi, fanatisme berlebihan itu berbahaya karena bisa menutup hati nurani dan akal sehat kita. Sebagai seorang Kristiani, kita sebaiknya berdiri di atas kebenaran ajaran Yesus tanpa dibatasi sekat agama, status, dll. Perintah Yesus jelas, yaitu supaya kita saling mengasihi, seperti Tuhan telah mengasihi kita (lih. Yoh. 15:12).
Bahkan, Yesus pun mengajarkan kita untuk mengampuni, mengasihi, dan mendoakan musuh. Ajaran Yesus tetap dan tidak berubah sepanjang masa.

Mungkin ada yang bisa menjawab atau memberikan pencerahan dengan tenang dan tanpa emosi, karena ilmu agama saya belum dalam. Soalnya jaman now, susah untuk membedakan mana pengikut Yesus dan mana pengikut Israel.

Pertanyaan dan keberatan saya ini kemudian ditanggapi oleh sahabat-sahabat saya di FB. Ada jawaban yang cukup netral, tetapi ada juga jawaban yang cenderung berpihak ke Israel. Saya hanya memilih beberapa jawaban saja dan saya mulai dulu dari jawaban yang netral. Berikut kutipannya:

✅ Jawaban A:
Saya akan mencoba jawab per point:

1. Perang atau pembunuhan yang terjadi antara Israel dan Palestina, juga yang terjadi antara bangsa lain, tidak pernah disenangi atau direstui oleh Tuhan Yesus.

 2. Perbuatan Israel secara bangsa adalah bagian dari penggenapan Nubuatan Alkitab tentang akhir zaman, tetapi tindakan saling membunuh ada di luar kehendak Tuhan.

3. Israel bangsa Pilihan Allah adalah benar dalam arti melalui mereka akan lahir Mesias, tetapi sikap mereka yang tegar tengkuk juga dihukum oleh Tuhan, sampai sebagian dari mereka di kerat dan orang kafir menerima keselamatan karena kekerasan mereka.

4. Fanatisme Kristen membela Israel secara berlebihan itu tidak Alkitabiah karena Israel sebenarnya secara agama Yahudi tidak sama dengan Kristen, karena Kristen berpusat pada Kristus sementara Israel (Yahudi) menolak Kristus.

5. Ajaran Yesus dalam iman Kristen untuk saling mengasihi dan mengampuni itu benar dan tidak dapat ditawar dengan alasan atau atas nama apapun.

6. Pengikut dan penyanjung Israel secara lahiriah jelas sangat bertentangan dengan pengikut Yesus. Hanya saja Israel secara jasmani di PL dapat menjadi pembelajaran secara rohani bagi Orang Kristen dalam hal Allah sang pembela umat-Nya, tetapi dalam Kristen, pembelaan sudah tidak persis sama dengan pengalaman perang Israel karena bagi Kristen peperangan bukan lagi dengan darah dan daging, tetapi melawan roh jahat di udara.

✅ Jawaban B:
Pertikaian, permusuhan, dan pembunuhan jelas bertentangan dengan ajaran Yesus (Kristen). Namun, apa yang terjadi sekarang tampaknya sebagai mulai digenapinya nubuatan dalam kitab Zakaria 12, dan kemungkinan akan terus berproses hingga suatu saat Yerusalem akan dikepung bangsa-bangsa sebagai bagian dari tanda kedatangan Kristus kedua kali (Luk. 21:20).

Kedua jawaban ini cukup netral bagi saya, dan saya sepakat. Jawaban A membahas topik secara lebih luas, dan jawaban B lebih fokus pada runtuhnya Yerusalem dan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya pada akhir zaman.

Selanjutnya jawaban dari sahabat saya yang lebih berpihak ke Israel yang cukup menarik untuk saya tanggapi. Seperti inilah diskusi singkatnya:

✅ Sahabat saya:
Hmmm.... Kalau menurut saya tanpa emosi yaa..., cuma tukar pikiran saja. Di Alkitab sudah tertulis, jika Israel ini memang tegar tengkuk kan? Tetapi Allah sayang sekali mereka seperti biji mata-Nya sampai DIA mengatakan, siapa yang mengutuk israel akan dikutuk dan siapa yang memberkati israel akan diberkati. Well, Tuhan punya hitungan sendiri yang tidak akan pernah masuk dalam akal kita yang kecil karena DIA terlalu besar.

Jadi bagiannya kita, PERCAYA saja, tetap kerjakan keselamatan, sisanya bagian Tuhan. Roh Kudus akan membawa kita pada kebenaran demi kebenaran asalkan kita tetap percaya, maka mukjizat yang dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya tidak pernah berubah, akan terjadi pada kita orang percaya. Demikian pak dari saya yang masih belajar juga, semoga bisa memberkati. 😇

✅ Saya:
Saya cuma bertanya kan? Hehehe.... Jadi saya tidak akan perpanjang lagi, takut jika sudah bercerita kutuk. Bagi saya yang penting Israel melaksanakan kebaikan yang diajarkan Yesus dalam Perjanjian Baru. Sebab intinya Yesus sebagai anak Allah, bukan Israel, karena Israel hanya bagian dari rencana penyelamatan Allah dalam KS Perjanjian Lama. Kita tidak akan tahu kapan ajal kita, yang penting bagi kita lakukan saja kebaikan. ☺

✅ Sahabat saya:
Hahaaha.... Saya juga cuma menyampaikan, tetapi itu tidak mungkin, karena Israel tegar tengkuk. Walaupun kepandaian mereka itu 8x lipat dari orang paling pandai di dunia ini, tetapi mereka sepertinya tidak akan melakukan itu. Tetapiii..., Tuhan akan tetap selamatkan mereka, bukan karena perbuatan baik atau jahat mereka, tapi karena ada PERJANJIAN pada nenek moyang Israel yang tidak akan mungkin Tuhan langgar. Hehehhe itu kata Alkitab. Selamat pagi.

✅ Saya:
Saya sebenarnya lebih suka referensi dari Perjanjian Baru. Mungkin ini maksud Rasul Paulus dalam surat kepada umat di Roma pasal 2, bahwa hukuman Allah atas semua orang, apakah itu orang Yahudi, Yunani, dsb, karena Allah tidak memandang bulu. Selanjutnya pasal 3, dst, bahwa semua manusia berdosa dan manusia dibenarkan karena iman dalam Kristus.

Jadi menurut saya, Israel itu sama seperti kita. Kalau Israel adalah bangsa pilihan, tetapi kita akan bisa menjadi orang pilihan Allah. Hanya orang beriman dan melaksanakan kehendak Allah yang diselamatkan karena Allah tidak pandang bulu. Jika Israel jauh dari Allah maka mereka tidak selamat. Mudah-mudahan segera datang masa di mana Israel bertobat dan percaya kepada Yesus.

Dalam Perjanjian lama Allah pernah murka kepada bangsa Israel karena berbuat dosa (melanggar hukum Taurat); dan dalam Perjanjian Baru Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapi. Jadi, selama Israel melaksanakan Sepuluh Perintah Allah dan Hukum Cinta Kasih yang dibawa Yesus mereka akan selamat, karena Allah itu adil terhadap semua orang.

Kira-kira seperti itu pemahaman saya hehehe... Thanks sudah bertukar pikiran dan memberi masukan. 👍

Demikianlah sekilas diskusi sehat antara saya dan sahabat-sahabat saya. Dari diskusi ini kita kemudian bisa menarik kesimpulan berdasarkan pemikiran kita masing-masing. 

Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel memang disebutkan sebagai bangsa pilihan Allah, karena dari bangsa ini lahir seorang Mesias yaitu Yesus Kristus seperti yang pernah dinubuatkan oleh para nabi mulai dari kedatangan hingga kematian-Nya. Namun pada kenyataannya, dalam Perjanjian Baru Yesus ditolak dan dibunuh oleh bangsa-Nya sendiri. Mereka menolak jika Yesus adalah Mesias yang dinantikan mereka selama ini dan secara otomatis mereka pun menolak Kitab Suci Perjanjian Baru. 

Dalam Perjanjian Lama Allah pernah murka kepada bangsa Israel karena berbuat dosa, dan dalam Perjanjian baru pun Yesus sering mengkritik kemunafikan dan kebobrokan yang ada dalam kehidupan bangsa-Nya sendiri khususnya kehidupan para imam, ahli Taurat, dan kaum Farisi. 
Allah itu adil terhadap semua orang dan akan menghukum setiap orang yang bersalah tanpa pandang bulu. Hanya orang yang beriman kepada Yesus dan melakukan kehendak-Nya yang akan dibenarkan dan selamat. 

Jadi, kalau Israel benar katakan benar, kalau Israel salah katakan salah. Sebab bangsa Israel sama seperti kita, hanya sekumpulan orang yang bisa berbuat dosa, begitupun dengan bangsa Palestina. Semoga bangsa Israel segera bertobat dan percaya kepada Yesus. Semoga segera tercipta perdamaian di dunia ini khususnya antara Israel dan Palestina. Tuhan memberkati! 🙏

Patung Favoritku Salib Yesus, Bunda Maria, dan Pieta

Patung Pieta, Bunda Maria, dan Salib Yesus ini merupakan koleksi yang sangat berharga bagi saya, sebab merupakan hadiah atau penghargaan yang didapatkan dalam lomba antar wilayah rohani dulu. Menurut saya, pemberian patung di setiap lomba menggantikan trophy atau piala, jauh lebih berharga karena mengandung nilai religius dan seni. 

Patung Salib Yesus dan Bunda Maria mungkin sudah banyak yang punya, tetapi patung Pieta adalah patung yang jarang dan unik. Selain itu, patung ini mengandung nilai estetika yang sangat tinggi, dan yang terutama patung ini mengandung makna religius yang sangat dalam. Oleh sebab itu, patung Pieta ini merupakan salah satu patung favorit saya. 

Berikut ini sekilas info bagi yang belum mengetahui tentang patung Pieta. 
Patung Pieta adalah patung yang berada di Basilika St. Petrus Roma, Italia, merupakan mahakarya seorang seniman terkenal Michelangelo pada tahun 1498-1499. Patung ini dipahat dari sebongkah marmer Carrara. Patung tersebut dibuat atas permintaan Kardinal Jean de Villiers de la Groslaye, duta besar Perancis untuk negara Roma. Nama Pieta diambil dari bahasa Italia yang artinya "turut merasakan penderitaan orang lain". 

Patung Pieta menampilkan sosok Maria yang sedang memangku jasad Yesus setelah penyaliban-Nya. Maria memeluk jenazah anaknya yang terbaring di pangkuannya dengan penuh kelembutan. Ia terlihat begitu sedih dan berduka. Sebab, tiada kepiluan yang lebih menyayat hati seorang ibu, selain menyaksikan darah dagingnya sendiri mati menderita. Tiada duka nestapa yang lebih dalam, selain dari duka nestapa seorang ibu yang menguburkan anak kandungnya sendiri. Oleh sebab itu, patung itu diberi nama Pieta karena Maria turut merasakan penderitaan anaknya.

Pieta adalah potret dari sebuah perjalanan panjang nan berat yang bernama ketaatan. Maria memulai perjalanan itu, tatkala ia bertekad di hadapan malaikat sang pembawa berita tentang kehamilannya yang adalah buah pekerjaan Roh Kudus, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38). 
Sejak saat itu, Maria pun menapaki perjalanan penuh ujian dan godaan. Ia harus menghadapi cemoohan penduduk Nazareth berkenaan dengan kehamilannya "di luar nikah." Maria harus melahirkan di kandang hewan yang kotor dan bau. Bersama-sama dengan Yusuf dan Sang Bayi, ia harus mengungsi ke Mesir guna menghindari kebengisan para prajurit Herodes. Ujian terberatnya adalah menyaksikan anaknya sendiri dihina, disiksa, dan dihukum mati di kayu salib bagaikan seorang penjahat.

Dalam Gereja Katolik, patung-patung ini sangat dihormati. Namun, penghormatan ini seringkali disalahartikan oleh pihak lain sehingga muncul tuduhan bahwa umat Katolik menyembah patung. Tidak ada penyembahan patung dalam Gereja Katolik, karena seperti agama, patung itu hanyalah sarana yang membantu orang Katolik untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan.
Hal ini Bisa digambarkan dengan seorang ibu yang sangat merindukan anaknya yang berada jauh. Dia kemudian melihat foto anaknya, mencium foto itu sambil meneteskan air mata. Bisa juga digambarkan dengan seseorang yang sangat mencintai kekasihnya. Dia menyimpan foto kekasihnya dalam dompet, album foto, atau smartphone. Sesekali dia melihat foto kekasihnya di kala rindu datang dan akhirnya tersenyum bahagia.
Begitupun halnya dengan berdoa di depan patung Yesus dan Bunda Maria, orang Katolik akan merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Yesus dan Bunda Maria karena patung-patung itu menggambarkan Pribadi Yesus dan pribadi Bunda Maria sendiri.

Allah telah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia ini karena cinta-Nya yang begitu besar kepada manusia, agar manusia semakin dekat dengan Allah dan dibebaskan dari belenggu dosa. Allah Yang Mahabesar dan Mahatinggi, yang sebelumnya terasa sulit dijangkau karena terlalu besar dan mulia bagi manusia, kini terasa sangat dekat karena kedatangan Yesus, Putra Allah yang menjelma menjadi manusia. Yesus rela menjadi sama seperti manusia yang bisa merasakan sakit, lapar, haus, dsb, tetapi tanpa noda dosa.

Dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus mengajarkan kita untuk memanggil "Allah" dengan sebutan "Bapa" supaya kita menjadi semakin dekat dan akrab dengan Allah. Ya, seperti seorang anak yang bercakap-cakap dengan bapanya, seperti itulah kita berdoa kepada Allah dan memanggil-Nya Bapa.
Pada akhirnya Yesus rela melalui jalan penderitaan (via dolorosa) dengan dihina, disiksa, dan wafat di salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Salib yang dulu merupakan tempat yang hina, kini ditinggikan dengan kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Salib itulah yang kita hormati hingga saat ini.

Patung bisa retak, bisa hancur berkeping-keping, begitupun dengan Alkitab yang bisa usang dan hancur dimakan rayap, bahkan bangunan gereja yang kokoh bisa dirobohkan, dihancurkan, atau dibakar. Namun, gereja yang sesungguhnya ada dalam diri kita, karena Roh Kudus bersemayam dalam diri kita yang mau menerima-Nya. Sabda Allah akan bertumbuh subur dalam diri kita dan menghasilkan buah yang baik. Hati kita akan menjadi Bait Allah yang tidak lekang oleh waktu. Semoga demikian. Tuhan memberkati! 🙏

Mengasihi dan Mendoakan Musuh. Mungkinkah?

Matius 5:43-45 
"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar." 

Melihat judul dia atas, mungkin ada dari kita yang merasa familiar dengan kata "mungkinkah". Kata ini mengingatkan kita pada judul lagu Stinky yang populer di era 90-an. Berikut potongan lagunya: Mungkinkah kita 'kan selalu bersama, walau terbentang jarak antara kita ....
Lagu Ini memang tidak mengisahkan tentang mengasihi musuh, tetapi berisi kisah tentang sepasang kekasih yang saling mengasihi namun terpisah oleh jarak. Apakah mungkin mereka terus bersama jika mereka terpisah oleh jarak? Ini mungkin menjadi permasalahan bagi setiap pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Jika ada dasar kasih yang kuat dalam hubungan mereka, seberapapun jauhnya raga mereka terpisah oleh jarak, mereka akan tetap selalu bersama. Sebaliknya, jika kasih itu sudah padam, maka seberapapun dekatnya raga mereka, ada jarak yang memisahkan. Apalagi ketika hubungan itu sudah dinodai ketidaksetiaan, ketidakpercayaan, keegoisan, amarah, kebencian dan dendam, maka jarak yang tercipta di antara mereka semakin lebar seperti jurang yang sangat terjal.

Melihat Mat. 5:43-44 di atas, perintah Yesus untuk mengasihi dan mendoakan musuh ini terdengar aneh dan terasa tidak mungkin. Mungkinkah kita mengasihi dan mendoakan orang yang kita benci karena telah mengecewakan, menyakiti, merugikan, bahkan mengancam keselamatan jiwa kita?
Permusuhan bisa tercipta di mana saja dalam kehidupan sosial, baik itu di dalam keluarga, sekolah, pekerjaan, masyarakat, bahkan dalam kehidupan beragama. Selalu saja ada orang yang membuat hidup orang lain menjadi sangat sulit. Permusuhan bisa terjadi karena seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain mulai dari perkara kecil hingga perkara besar. Permusuhan bisa disebabkan oleh kelalaian orang lain, kesalahpahaman, penghinaan, penghianatan, fitnahan, hingga tindakan kekerasan atau kejahatan yang mengakibatkan kekecewaan, sakit hati, trauma, kerugian materi, korban luka, hingga korban jiwa.
Sangat sulit untuk melupakan semua situasi yang mengecewakan, menyedihkan dan mengerikan yang telah kita alami dalam hidup kita yang disebabkan oleh musuh kita. Orang yang dekat secara pribadi dengan kita bisa saja menjadi musuh, apalagi orang yang tidak dekat dengan kita atau tidak kita kenal.

Dewasa ini Gereja Katolik mendapatkan banyak cobaan, mulai dari serangan verbal hingga fisik. Dalam masalah budaya dan moral yang masih terus diperdebatkan hingga saat ini seperti aborsi, eutanasia, pernikahan sesama jenis, kontrasepsi dan hukuman mati, gereja dianggap sebagai penghalang. Namun di sisi lain gereja difitnah dengan berita-berita yang dipelintir oleh media masa dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga menimbulkan kekisruhan tidak hanya di luar gereja, tapi juga di kalangan gereja sendiri. Seperti baru-baru ini, perkataan Paus Fransiskus dalam bahasa Spanyol yang diambil dari sebuah film dokumenter berjudul Francesco, yaitu convivencia civil dipelintir artinya dalam bahasa Inggris menjadi civil union, dan kemudian disimpulkan jika Paus memberi dukungan untuk pernikahan sesama jenis. Berita ini kemudian dengan cepat disebarkan oleh orang-orang yang tidak paham, memiliki kepentingan tertentu, atau kelompok yang tidak senang dengan Paus dan Gereja Katolik.
Dalam bahasa yang sama, orang-orang sering saja tidak mau memahami meskipun sebenarnya mereka paham, apalagi dalam bahasa yang berbeda. Itu bisa disebabkan oleh kebencian atau tunggangan suatu kepentingan. Berikut terjemahan perkataan Paus Fransiskus dalam bahasa Indonesia:
"Orang-orang homoseksual punya hak untuk tinggal di tengah-tengah keluarganya. Mereka juga adalah anak-anak Allah. Kita tidak menyingkirkan dari tengah-tengah keluarga siapapun, termasuk mengucilkan dan membunuh masa depan mereka”. “Yang harus kita lakukan adalah membuat payung hukum sipil hidup bersama. Mereka juga punya hak untuk dilindungi secara hukum." Lalu Paus menambahkan, “Saya mendukung ini”.

Melihat dari konteksnya, Paus Fransiskus tidak sedang berbicara tentang pernikahan sesama jenis, tapi tentang bagaimana kita seharusnya menghargai kaum homoseksual. Paus mengajak kita untuk hidup bersama atau hidup berdampingan dengan mereka secara damai, baik itu dalam keluarga maupun masyarakat, karena mereka juga adalah anak-anak Allah. Mereka juga punya hak untuk dilindungi secara hukum dari sasaran tindakan diskriminasi dan kekerasan dalam berbagai bentuk. Mereka perlu dirangkul dan dibina, bukan dijauhi, dimusuhi bahkan dibinasakan. Domba yang hilang itu perlu diselamatkan, bukan dibiarkan terjebak di tepi jurang yang terjal hingga binasa. Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, tapi untuk orang berdosa, supaya mereka bertobat. Sebab ada sukacita di sorga karena 1 orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (lih. Luk. 5:32; Luk.15:7). Jadi, maksud dari frase "convivencia civil" (bahasa Spanyol) atau "civil coexistence" (bahasa Inggris) atau "hidup bersama" ini bukan tentang pernikahan sesama jenis, tapi tentang manusia yang hidup berdampingan antara satu dengan yang lain. Sampai kapanpun juga gereja tidak akan pernah menyetujui pernikahan sesama jenis karena itu bertentangan dengan Alkitab dan ajaran resmi gereja, dan Paus tentu sangat paham dengan itu. Hidup bersama atau hidup berdampingan merupakan frase yang sudah umum digunakan dalam pembahasan terkait manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, No man is an island.
Entah apa yang melatarbelakangi mereka memfitnah Paus Fransiskus, entah disengaja atau tidak disengaja, tapi bukan merupakan hal baru ketika gereja diserang. Sejak abad pertama gereja telah diserang sehingga lahirlah para martir dan apologist. Bapa-bapa Gereja terus berjuang membela dan mempertahankan iman dan kemurnian ajaran gereja yang berasal dari Yesus. Dalam perjalanannya yang panjang, gereja telah berhasil melewati begitu banyak tantangan dan cobaan, dan terus bertumbuh dan berkembang hingga saat ini.

Penjelasan lebih lengkap tentang arti convivencia civil dari Paus Fransiskus bisa dilihat dalam link di bawah ini:

Vatikan juga sudah mengklarifikasi dan membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Beritanya bisa dibaca dalam link di bawah ini:

Belum reda kontroversi berita dari Paus Fransiskus, dunia kembali lagi dihebohkan dengan berita serangan teroris di Basilika Notre-Dame, Nice, Perancis. Pelaku teror membantai orang-orang yang sedang bersiap mengikuti misa dengan menikam dan menggorok leher para korban. Hingga nafas terakhirnya, para korban mungkin tidak mengetahui apa salah mereka sehingga mereka ditikam dan digorok. Sangat disayangkan pelaku teror menghabisi nyawa sesamanya manusia dengan meneriakan nama Tuhan. Pelaku teror membunuh atas nama Tuhan, padahal Tuhan itu sendiri Maha Rahim, Tuhan yang penuh belas kasih. Apapun motifnya, entah karena sakit hati, balas dendam, dsb, tindakan main hakim sendiri dengan mengambil nyawa orang lain adalah sebuah dosa yang sangat besar. Setiap manusia berharga di mata Tuhan, dan hanya Tuhanlah yang berhak mengambil nyawa setiap manusia.

Berita selengkapnya tentang serangan teror di Perancis bisa dibaca dalam link berikut ini:

Kesombongan merupakan sumber segala kejahatan yang ada di muka bumi ini. Kesombongan adalah akar dari semua dosa. Kesombongan menyebabkan manusia kehilangan hati nurani dan akal sehatnya. Kesombongan membuat seseorang sakit melihat yang lain naik, tapi senang melihat yang lain jatuh, berusaha naik dengan menjatuhkan yang lain, mencari pembenaran diri bukan kebenaran sejati. Kesombongan menyebabkan manusia sulit mengontrol hawa nafsu, mudah merasa sakit hati, iri hati dan marah. Seluruh rasa itu terus dipendam hingga akhirnya tercipta kebencian dan dendam yang membara. 
Dalam berbagai peristiwa, sikap dan tindakan yang berdasarkan kasih, seperti mengampuni dan mendoakan orang yang bersalah, mengasihi dan menghargai orang yang berbeda dengan kita, sering kali dicari-cari kesalahannya oleh orang-orang yang membenarkan sikap dan tindakan yang hanya berdasarkan kebencian, seperti diskriminasi dan kekerasan terhadap orang yang bersalah atau berbeda dengan mereka. Kritik yang mereka berikan tidak lagi murni tujuannya untuk membangun, tapi untuk menjatuhkan. Teguran terhadap orang yang dituduh berbuat salah pun tidak lagi berdasarkan kasih, dan tidak lagi murni tujuannya agar dia menyadari kesalahannya, tapi sudah bercampur kebencian, bahkan sudah bermotifkan balas dendam. Mereka terus mencari-cari kesalahan dari sesuatu yang benar demi pembenaran diri, karena kasih dalam diri mereka sudah terhalang oleh tembok kebencian.
Dalam Roma 12:19-21, Rasul Paulus memberikan pengajaran demikian: Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Dari fitnah kepada Paus Fransiskus dan Gereja Katolik, serangan teror di Basilika Notre-Dame, Perancis, dan peristiwa serupa yang lain, mungkin membuat banyak orang merasa sakit hati, marah dan kemudian membenci. Bahkan karena begitu marah dan bencinya, sehingga muncul niat untuk balas dendam, tapi mereka masih ingat atau diingatkan akan ajaran Yesus tentang mengasihi sesama manusia, termasuk mengasihi musuh. Setiap saat, kita harus saling mengingatkan ajaran mulia ini, sehingga kita tidak terbawa emosi dan main hakim sendiri, karena sudah cukup banyak hakim di dunia ini. Jika hakim dunia berlaku tidak adil, masih ada Yesus, hakim yang adil, yang akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Siapakah kita sehingga berani menghakimi? Kita tidak berhak menghakimi dan membalas, karena penghakiman dan pembalasan sesungguhnya hanya milik Tuhan (lih. Rm. 12:19; Ibr. 10:30; Why. 2:23). Sungguh beruntunglah kita dan sepatutnya bersyukur, karena Yesus yang murah hati telah mengajarkan dan memberikan teladan kepada kita tentang kasih dan kerendahan hati, bahkan terhadap musuh kita.

Dari semua ajaran Yesus, perintah untuk mengasihi musuh ini terdengar aneh dan paling sulit untuk dilakukan. Namun ini adalah perintah Yesus, bukan hanya sebuah saran. Mengasihi musuh bukanlah cita-cita, tapi merupakan gaya hidup. Mengasihi keluarga dan sahabat mungkin sudah mainstream, tapi mengasihi musuh merupakan sesuatu yang extraordinary. Jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, apakah jasa kita? Karena orang-orang berdosa pun melakukannya. Jika kita hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik pada kita, apakah jasa kita? Orang berdosa pun berbuat demikian (lih. Luk 6:32-33).
Perintah Yesus untuk mengasihi musuh ini memanggil kita untuk menjalani hidup kita tanpa kebencian terhadap siapa pun. Setiap kali seseorang berbuat salah pada kita, muncul kecenderungan alami yang dapat menyebabkan kita menjadi tidak sabar, marah dan bahkan pendendam. Kita cenderung mengharapkan yang tidak baik bagi musuh kita, dan senang jika dia mengalami masalah atau musibah, bahkan memanjatkan syukur kepada Tuhan atas penderitaan yang dialaminya. Sebab itu, Yesus memerintahkan kita untuk menjalani cara hidup yang sama sekali berbeda. Bukan dengan mata ganti mata dan gigi ganti gigi, tapi ketika seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu (lih. Matius 5:38-39). Kita tidak dapat menganggap diri kita sebagai murid Yesus yang sejati kecuali kita benar-benar menjalankan perintah ini.

Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah sifat iblis, membalas kebaikan dengan kebaikan itu manusiawi, tapi membalas kejahatan dengan kebaikan itu adalah sifat Ilahi. Bagaimana mungkin kita mengaku orang yang beriman kepada Yesus, tapi masih menolak perintah Yesus untuk mengasihi musuh? Bagaimana mungkin kita menerima Tuhan yang penuh kasih dalam hati kita, tapi hati kita masih terhalang kebencian terhadap orang lain? Bagaimana mungkin kita beribadah sambil mengangkat tangan dan memuji Tuhan, menggunakan atribut agama, tapi kita masih membenci orang lain? Bagaimana mungkin kita berlutut dan mohon pengampunan Tuhan, tapi kita sendiri menolak mengampuni orang lain?
Kita boleh membenci, tapi bencilah dosanya, bukan manusianya, sehingga kita tidak melakukan dosa itu. Untuk mengasihi musuh memang membutuhkan perjuangan dan waktu. Mengampuni orang yang bersalah kepada kita tidak hanya dilakukan sekali, tapi dilakukan 70 kali 7 kali yang artinya pengampunan itu tidak terbatas (lih. Mat. 18:21-22). Sebab itu, kita perlu selalu merenung, mengintospeksi diri dan berdoa agar Roh Kudus senantiasa membimbing kita, sehingga kita membukakan pintu maaf bagi musuh-musuh kita.

Yesus sendiri telah memberikan teladan dengan berbagi roti dengan Yudas, orang yang diketahui akan menghianati-Nya. Sanggupkah kita duduk dan makan bersama dengan orang yang kita ketahui akan menghianati kita? Bahkan yang paling ekstrim, Yesus mengampuni dan berdoa bagi orang-orang Yahudi yang telah menyalibkan-Nya dengan berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (lih. Luk. 23:34). Yesus mengorbankan diri di salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Sanggupkah kita mengampuni dan mendoakan orang yang menganiaya kita? Sanggupkah kita berkorban nyawa untuk orang yang telah bersalah pada kita?
Ajaran dan teladan Yesus ini diikuti oleh Paus Yohanes Paulus II ketika ditembak seseorang yang bernama Mehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981. Setelah sembuh, Paus meminta agar seluruh umat Katolik mendoakan Agca, karena Paus telah mengampuni pria Turki tersebut. Tak butuh waktu lama, Paus sendiri berinisiatif mengunjungi Agca dalam penjara dan mengampuninya, walaupun Agca sendiri belum meminta maaf. Meskipun telah diampuni, tapi Agca tetap harus menjalani masa hukumannya di dalam penjara sesuai hukum yang berlaku. Akibat luar biasa dari pengampunan itu adalah Agca bertobat dan menjalani sisa hidup dengan lebih baik. Dari musuh, Agca menjadi sahabat Paus. 
Semua orang berhak mendapatkan pengampunan dan bertobat karena kita semua adalah anak-anak Allah yang diberikan berkat yang sama: kita berpijak di bumi yang sama, menghirup udara yang sama dan bermandikan cahaya mentari yang sama. Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan kita demikian, "Ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (lih. Mat. 6:12). Jadi, sebelum orang yang bersalah kepada kita memohon pengampunan kita, bahkan tanpa permohonan ampun darinya sekalipun, sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mengampuninya, sehingga Bapa mengampuni kita juga.

Kisah penembakan Paus Yohanes Paulus II bisa dibaca dalam link berikut ini:

Kita dapat menerapkan perintah mengasihi musuh sesuai dengan cara kita sendiri dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Hal pertama yang sebaiknya kita lakukan untuk benar-benar bisa mengasihi musuh kita adalah dengan berdoa, memandang salib Yesus dan terus mengulang-ulang perkataan Yesus, "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat".
Selanjutnya kita bisa bertindak dengan menelpon, mengirim pesan atau surat kepada orang yang bersalah kepada kita; atau mengunjungi langsung kediamannya dan menyampaikan pengampunan kita kepadanya.
Mungkin ada situasi luar biasa di saat kita merasa tidak mungkin untuk benar-benar memaafkan musuh secara fisik, karena membahayakan diri kita. Meskipun demikian, dalam situasi ekstrim sekalipun, Yesus memanggil kita untuk mengampuni dari hati dan tidak menyimpan kebencian terhadap siapapun.

Allah ingin kita memandang musuh kita seperti Allah memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, sama seperti kita yang juga membutuhkan belas kasih Allah. Mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menyakiti kita, menjadikan kita sebagai anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kita juga murah hati, sama seperti Bapa yang murah hati (lih. Luk. 6:35-36). Dengan mengasihi musuh, maka kita menjadi cermin kasih Allah bagi musuh kita. Kita mengalahkan kebencian dan dendam, dan menjadi semakin serupa dengan Allah yang murah hati. 
Semoga kita selalu menunjukkan kemurahan hati dengan mengasihi dan mendoakan musuh kita. Tuhan pasti memberikan rahmat-Nya bagi kita yang terus berjuang melaksanakan kehendak-Nya. Bagi Tuhan tak ada yang tak mustahil, tak ada yang tak mungkin. Bersama Yesus kita pasti bisa. Semoga demikian. Tuhan memberkati! 🙏

#SelfReminder #SelfIntrospection

Mau Apakah Engkau dari pada-Ku, Ibu? Saat-Ku Belum Tiba

Judul di atas adalah sebuah perkataan Yesus dalam sebuah pesta perkawinan di Kana, sebelum Yesus membuat mukjizat-Nya yang pertama dengan mengubah air menjadi anggur. Maria meminta Yesus untuk membantu pemimpin pesta yang kehabisan anggur (lih. Yoh 2:1-11). 

Perkataan Yesus ini terlihat/terdengar seperti suatu hal yang negatif karena Yesus seperti menolak dan tidak menghormati Maria sebagai ibu-Nya, tetapi sebenarnya memiliki arti yang sangat baik. Maria memang ibu Yesus, tetapi Yesus mempunya dua hakikat yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia. Yesus adalah Putra Allah yang tentu harus mengutamakan rencana Allah hingga "saatnya" tiba, Yesus harus menderita dan wafat di salib. Perkataan Yesus ini seakan menunjukkan bahwa masalah kehabisan anggur ini tidak termasuk misi utama Yesus dalam "penebusan dosa manusia". Ini menjadi sebuah pelajaran bahwa kita harus menempatkan Tuhan di atas segalanya melebihi keinginan kita pribadi dan kasih kita kepada manusia termasuk orang tua kita sendiri. Ini menjadi dasar pelayanan kita yang sungguh-sungguh untuk Tuhan dalam melaksanakan perintah-Nya, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Meskipun demikian, Yesus akhirnya mengabulkan permohonan ibu-Nya sebab Maria merupakan sosok orang yang sangat beriman kepada Tuhan, seorang wanita yang taat dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah saat menerima kabar dari malaikat Tuhan bahwa Ia akan mengandung dari Roh Kudus. Maria dengan penuh iman berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (lih. Luk. 1:38). 

Maria adalah seorang wanita pilihan Allah, seorang perawan suci tak bernoda yang dipersiapkan Allah untuk melahirkan Putra Tunggal-Nya ke dunia. Yesus tidak diciptakan karena dia sendiri adalah Allah, tetapi Yesus berinkarnasi dengan dilahirkan dalam rupa/wujud manusia. Allah tidak sembarangan memilih wanita yang akan melahirkan Putra-Nya ke dunia yang hanya terjadi sekali dalam sejarah manusia, sejak penciptaan alam semesta hingga hari penghakiman nanti. Pendamping Maria pun bukan orang sembarangan, tetapi Yusuf adalah orang pilihan Allah yang memiliki sifat yang tulus, artinya Yusuf adalah seorang yang bersih hatinya dan bersungguh-sungguh dalam menuruti apa yang menjadi kehendak Allah (lih. Mat. 1:19). Yusuf menjaga dan memelihara keluarganya dengan penuh rasa tanggung jawab. Keluarga kudus dari Nazaret menjadi teladan kehidupan bagi seluruh keluarga orang beriman.

Sebagai seorang pengikut Yesus, kita pun sudah selayaknya menghormati Bunda Maria sebagai ibu Yesus. Kita tidak menyembah Bunda Maria, tetapi kita menghormatinya karena hanya Allah saja yang kita sembah. Seperti halnya kita tidak menyembah patung Bunda Maria, tetapi kita mengormatinya. Patung hanya merupakan salah satu sarana yang bisa membantu kita meningkatkan iman, seperti juga saat kita menghormati bendera merah putih, yang berarti kita mengenang kembali jasa para pahlawan yang telah berjuang dengan keringat dan darah dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Bisa juga digambarkan dengan seorang ibu yang meneteskan air mata saat melihat dan mencium foto anaknya yang telah wafat. Foto itu membangkitkan kenangan sang ibu akan pribadi yang ada dalam foto itu yaitu anaknya sendiri. Foto bisa hancur, tapi tidak dengan kenangannya. Patung bisa hancur, tapi tidak dengan iman kita.

Berdasarkan peristiwa dalam pesta perkawinan di Kana, ketika Yesus pada akhirnya melakukan mukjizat pertama-Nya meskipun belum saatnya, kita mengetahui bahwa Bunda Maria mempunyai pengaruh tak terhingga atas putranya Yesus Kristus. Dengan demikian, kita tidak perlu ragu memohon bantuan doa dari Bunda Maria agar doa-doa kita didengarkan Tuhan.
Marilah kita berdoa bersama-sama selalu kepada Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria, khususnya pada bulan Maria (Mei) dan bulan Rosario (Oktober), bulan yang penuh rahmat. Marilah kita terus melakukan devosi kepada Bunda Maria dengan berdoa Rosario. Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria permohonan kita dikabulkan Tuhan meskipun belum saatnya. Mungkin saat ini kita mengalami berbagai masalah seperti kesulitan ekonomi, gangguan sakit penyakit, keterpurukan, kekacauan, dan ketakutan. Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria, semua masalah kita bisa secepatnya terselesaikan.
Di tengah pandemi corona ini, marilah kita berdoa secara khusus memohon bantuan doa Bunda Maria dan semua orang kudus, agar Tuhan segera turun tangan membasmi virus corona dari muka bumi ini. Tuhan memberkati! 🙏

Marilah kita berdoa:

Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu,
terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.

Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini,
sekarang dan waktu kami mati.
Amin.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

JESUS CHRIST IS THE LORD, THE ONLY SON OF GOD


Kita sebagai umat Kristen mungkin pernah dihadapkan pada beberapa pertanyaan skeptis seperti ini:
"Apakah Yesus itu benar-benar Tuhan?"
"Mana buktinya jika Yesus itu adalah Putra Allah?"
"Mana ayat Alkitab yang menuliskan jika Yesus mengakui diri-Nya sendiri adalah Tuhan, Anak Allah?"
Oleh sebab itu, inilah sekilas bahasan tentang Yesus dan beberapa kesaksian dalam Alkitab yang otomatis akan langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan skeptis itu.

Yesus Kristus adalah Tuhan, Putra Tunggal Allah

Para pengikut Yesus Kristus yaitu umat Kristen percaya bahwa Yesus sebagai inkarnasi Tuhan, penjelmaan dari Allah Putra sebagai pribadi kedua dalam Trinitas Ilahi, Allah Tritunggal Maha Kudus, Tuhan Yang Maha Esa. Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan dan dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama.

Yesus dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh seorang perawan bernama Maria. Yesus mewartakan kabar sukacita dan kebenaran tentang kerajaan Allah, Dia melakukan berbagai mukjizat, seperti mengubah air menjadi anggur, memperbanyak lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir setan. Yesus mendirikan gereja, menderita sengsara, dan wafat di salib sebagai kurban untuk penebusan atas dosa manusia, bangkit dari kematian, dan naik ke surga duduk di sebelah kanan Allah Bapa, serta akan datang kembali untuk mengadili orang hidup dan mati.

Yesus menjadi silih atas dosa-dosa manusia dan memungkinkan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa untuk didamaikan dengan Allah. Yesus menggantikan ketidaktaatan Adam dengan ketaatan-Nya pada Allah Bapa hingga wafat di salib. Darah dan air yang mengalir dari luka-luka pada tubuh Yesus menjadi samudra belaskasih Ilahi tak terhingga yang mengalir kepada jiwa-jiwa yang berlumur dosa. Melalui Yesus, manusia dibebaskan dari belenggu dosa sehingga rahmat kasih Allah kembali mengalir kepada setiap manusia yang terlahir menjadi manusia baru yang dijiwai Roh Kudus. Yesus menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kematian kekal.

Berikut ini adalah beberapa ayat dalam Alkitab yang berisi pernyataan dan kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan, Putra Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia:

Perjanjian Lama

💎 Kejadian 1:1-3.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.

Dalam Perjanjian Lama, di awal Kitab Kejadian sudah muncul kata Allah, Roh Allah, dan Firman Allah, tetapi ini masih belum jelas menunjukkan bahwa Allah (Bapa), Roh Allah (Roh Kudus), dan Firman Allah (Anak) itu adalah tiga pribadi Allah yang berbeda.

💎 Kejadian 1:26.
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Ungkapan 'Baiklah Kita' ini mengandung suatu implikasi awal mengenai Allah Tritunggal. Penggunaan bentuk jamak 'Kita' menunjukkan adanya kejamakan di dalam diri Allah. Penyataan mengenai Allah Tritunggal baru menjadi jelas dalam Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru

💎 Yohanes 1:1-3.
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

💎 Yohanes 1:14.
Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. 

💎 Yohanes 1:18.
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan- Nya.

Dalam Perjanjian Baru, Allah Tritunggal menjadi semakin jelas. Ayat-ayat ini semakin memperjelas tentang Yesus, Putra Tunggal Allah, Firman yang menjadi manusia.

💎 Matius 3:16-17. 
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Ayat ini menunjukkan dengan jelas keterlibatan tiga pribadi Allah, yaitu: Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

💎 Matius 17:2-5. 
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." 

Sama seperti Matius 3:16-17, ayat ini berisi pernyataan Allah tentang Yesus: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." 

💎 Matius 28:19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Sebelum naik ke Surga Yesus memberikan amanat kepada para murid-Nya agar menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis mereka dalam nama Allah Tritunggal: Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

Kesaksian dan pernyataan Malaikat

💎 Lukas 1:30-32.
Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.

💎 Lukas 1:35.
“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

Kesaksian dan pernyataan Elizabet

💎 Luk 1:41-43.
Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

Kesaksian dan pernyataan Yohanes Pembaptis

💎 Yohanes 1:15.
Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. "

💎 Yohanes 1:25-27.
Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."

💎 Yohanes 1:32-34.
Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

💎 Lukas 3:16.
Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Kesaksian dan pernyataan Simon Petrus

💎 Matius 16:15-17.
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Kesaksian dan pernyataan Tomas

💎 Yohanes 20:27-29.
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya.  Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.

Kesaksian dan pernyataan Yesus tentang diri-Nya

💎 Lukas 2:46-50. (Yesus pada umur 12 tahun dalam Bait Allah)
Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.

💎 Yohanes 5:21-23.
Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. 

💎 Yohanes 8:58. 
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."

💎 Yohanes 10:30.
Aku dan Bapa adalah satu.

💎 Yohanes 13:13.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 

💎 Yohanes 14:6-7.
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.

💎 Lukas 32:66:71.
Jawab-Nya: Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahatinggi. Kata mereka semua: Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah? Jawab Yesus: Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah. Lalu kata mereka: Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.

Setan pun mengakui Yesus adalah Putra Allah dan gemetar kepada-Nya

💎 Matius 8:29-31.
Dan mereka itu pun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.”

💎 Markus 5:6-10.
Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”
Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: “Siapa namamu?” Jawabnya: “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.

💎 Lukas 4:41. 
Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Maksud Injil ini dicatat

💎 Yohanes 20:30-31.
Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Iman yang menyelamatkan

💎 Roma 10:9-11.
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." 

Iman menjadi sempurna oleh perbuatan

Jika manusia sudah mengimani Yesus sebagai Tuhan, Putra Tunggal Allah, maka iman itu harus berbuah perbuatan baik, sehingga iman itu menjadi sempurna. Sebab seperti tubuh ranpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (lih. Yakobus 2:14-26).

💎 Yakobus 2:19-20.
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

Semoga mereka yang belum percaya dan masih bimbang akhirnya percaya, dan mereka yang sudah percaya menjadi semakin percaya kepada Yesus sebagai Tuhan, Putra Tunggal Allah.
Semoga kita semua semakin beriman kepada Yesus Kristus dan memuliakan Allah sekarang dan selama-lamanya. Tuhan memberkati! 🙏

Sumber: Alkitab

Tentang Yesus dan Salib-Nya, hingga Penghinaan Salib Yesus karena Kesombongan yang Hakiki

Tentang Yesus dan Salib-Nya 

Oleh karena begitu besar kasih Allah kepada manusia maka Allah mengutus Putra-Nya Yesus Kristus ke dunia untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Yesus tidak datang sebagai Raja yang kaya raya, mempunyai kerajaan, para pelayan, dan pasukan yang besar dan kuat yang bisa menaklukkan kerajaan lain dengan senjata. Yesus datang bukan dengan kelebihan seperti itu. 

Yesus datang sebagai raja bukan dengan dengan tolak ukur atau gambaran raja menurut manusia. Bukan seperti pemikiran raja Herodes yang khawatir tahtanya terancam dengan kelahiran seorang raja yang kelak akan mempunyai kerajaan dan pasukan yang besar dan kuat, sehingga dia memerintahkan seluruh pasukannya untuk memburu dan melenyapkan kanak-kanak Yesus.

Namun, kenyataannya sebaliknya, Yesus dengan segala kerendahan hati rela dilahirkan sebagai manusia di kandang yang hina dan hidup sederhana sebagai seorang anak tukang kayu. Dia rela menderita dan wafat di kayu salib sesuai nubuat para nabi. Yesus Kristus merupakan anugerah terbesar dari Allah bagi seluruh umat manusia. Allah telah berfiman agar manusia mendengarkan Dia.

"Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Matius 17:5)

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, tetapi Yesus mengajarkan kebenaran dari Allah, berbuat baik, dan melakukan mukjizat. Yesus, menyembuhkan banyak orang sakit, mengusir setan, dan membangkitkan orang mati. Dia mewartakan kabar sukacita kepada semua orang terutama yang miskin, sakit, dan menderita. Dia mencari domba yang hilang (orang berdosa) untuk diselamatkan.

Yesus mengajarkan tentang kasih kepada Allah dan sesama manusia karena Allah sendiri adalah kasih. Kasih menjadi ciri khas umat Allah atau Gereja. Jika seseorang tidak memiliki kasih maka ia tidak mengenal Allah. Kasih akan melahirkan pengampunan, kerendahan hati, dan pengorbanan diri. Yesus sendiri telah memberi teladan dengan rela menjadi manusia dan mengorbankan dirinya di kayu salib sebagai tanda kasih-Nya yang terbesar kepada seluruh umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

"Barangsiapa tidak mengasihi, Ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8)

Singgasana Yesus bukanlah kursi dan mahkota emas berhiaskan intan permata, tetapi singgasana Yesus adalah salib dengan mahkota duri. Salib adalah tanda kemenangan bagi semua pengikut Yesus, sebab lewat salib Yesus, dosa dan maut dikalahkan. Untuk itulah mengapa setiap pengikut Yesus harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Yesus. 

Menyangkal diri berarti setiap orang yang mau mengikuti Yesus harus melakukan apa yang dilakukan dan diperintahkan oleh Yesus, harus menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Menyangkal diri melibatkan pertobatan yang terus-menerus, karena itu menyangkal diri melibatkan juga kerendahan hati untuk menyesali dan mengakui segala dosa dan kesalahan serta tunduk pada perintah Allah.

Ini juga berarti seseorang harus memikul salib (penderitaan) seperti yang dilakukan Yesus. Namun, menerima penderitaan ini harus dilandasi oleh kasih kepada Allah dan kebenaran dalam Yesus Kristus.

Penghinaan terhadap Salib Yesus

Salib Yesus menjadi simbol kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Penggunaan tanda salib dan patung salib Yesus dalam pewartaan Injil dan dalam pergaulan hidup setiap hari menjadi bentuk pengakuan para pengikut Yesus akan imannya di depan banyak orang. 

"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 10:32)

Salib selalu mengingatkan kita akan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam menebus dosa manusia. Kita tidak menyembah salib, tetapi kita mengenang, mencintai, dan menghormati Pribadi yang ada dalam salib itu, yaitu Yesus Kristus; Pribadi yang penuh cinta kasih, penuh kerendahan hati, dan penuh pengampunan.
Kita memandang salib dengan Corpus (Tubuh Yesus) seperti memandang foto orang yang kita kasihi, keluarga kita. Bukan fotonya yang berharga bagi kita, tetapi orang-orang yang berada dalam foto tersebut. Foto bisa hancur, tetapi tidak dengan kenangan di dalamnya. Salib bisa hancur, tetapi tidak dengan iman akan Yesus yang tersalib.

Salib Yesus bagi sebagian orang mungkin merupakan kebodohan. Mereka berkata bahwa tidak mungkin Yesus itu Putra Allah, tidak mungkin Tuhan menjelma menjadi manusia. Jika Yesus itu Tuhan, Sang Juru Selamat, mengapa Ia tidak bisa menyelamatkan diri dari salib?
Mereka lupa jika mereka sering mengatakan bahwa tiada yang mustahil bagi Allah, tetapi mereka meragukan kuasa Allah yang tidak terbatas dengan pikiran mereka yang terbatas. Jika mereka tidak memercayai Yesus sebagai Tuhan, setidaknya jangan menghina keyakinan orang lain. Pepatah lama "Silent is gold" (diam adalah emas) masih relevan. 

"Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." (1 Korintus 1:18)

Namun, itulah salib yang harus dipikul oleh setiap pengikut Yesus yang memberitakan salib Yesus. Bagi kita yang diselamatkan pemberitaan tentang salib adalah kekuatan Allah. Setiap penghinaan dan penolakan akan Yesus yang tersalib harus ditanggapi dengan baik dan bijak oleh para pengikut Yesus.
Itulah Karya Keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang seringkali tidak dapat dipahami dan diterima oleh sebagian orang.

"Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu." (1 Petrus 4:14 )

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah termulia yang diberikan akal budi. Manusia mempunyai kehendak bebas (free will) untuk memilih dan membuat keputusan dengan sadar. Pilihan untuk menjadi baik atau jahat pada akhirnya akan menjadi urusan antara manusia dengan Tuhan. Jika pilihan kita dalam nama Yesus Kristus membuat kita dinista, maka kita seharusnya berbahagia karena Roh Allah ada dalam diri kita. 
Yesus Kristus memang telah menebus dosa seluruh umat manusia, tetapi kita tidak boleh seenaknya berbuat dosa. Kita harus mematuhi perintah Tuhan, melakukan kehendak-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Kita harus bertobat dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Perkataan tidaklah cukup, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan. Iman dan pertobatan kita harus berbuah perbuatan-perbuatan yang baik.

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21) 

Balasan Terbaik terhadap Penghinaan

Melihat judulnya, kemudian muncul pertanyaan: 

Bisakah kita bersikap sombong kepada orang yang sombong? 
Bisakah kita membalas hinaan orang yang sombong? 

Menurut saya, sangat bisa jika cuma sekedar menuruti hawa nafsu karena manusia mempunyai dosa asal sejak lahir, yaitu dosa Adam dan Hawa. 

Apakah dosa Adam dan Hawa?

Kesombongan ingin seperti Allah dengan memakan buah terlarang. Kesombongan merupakan akar semua dosa. Kesombongan itulah yang membuat para malaikat jatuh ke dalam dosa. Mereka seratus persen melawan Allah karena ingin serupa dengan Allah dan ingin disembah. Mereka itulah yang disebut setan. 

Maksud saya mengatakan bahwa manusia sangat bisa menjadi sombong karena pada dasarnya manusia memiliki sifat demikian, dan biasanya manusia akan merasa puas setelah bisa melampiaskan hawa nafsunya melalui kesombongan. Akan tetapi, sombong bukan merupakan hal baik karena sangat tidak sesuai dengan ajaran Yesus tentang kasih. Kesombongan adalah sifat buruk manusia yang harus ditolak, bukan dituruti. Kesombongan harus dilawan dengan kasih. 

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4)

Kejahatan jangan dibalas kejahatan karena akan semakin saling mendendam. 
Kesombongan jangan dibalas kesombongan karena akan semakin saling menjatuhkan.
Panas jangan dibalas panas karena akan semakin membara.
Api jangan dibalas api karena akan semakin menyala.
Jika ada yang memulai pertengkaran, harus ada yang mulai menenangkan.
Jika ada yang memulai peperangan, harus ada yang mulai mendamaikan.

"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan." (Roma 12:21)

Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai sifat alami yang baik, yaitu kasih. Yesus telah mengajarkan cinta kasih sebagai hukum yang terutama, yaitu mengasihi Allah dan sesama manusia. Cinta kasih bisa melahirkan buah-buah yang baik, seperti pengampunan, kerendahan hati, dan kedamaian.
Jika kita mengasihi maka kita mengalahkan kebencian dan kesombongan. Kejahatan jangan dibalas kejahatan. Bagaimanapun berbuat baiklah karena pembalasan adalah hak Tuhan. 

"Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman." (Roma 2:6-8)

Marilah kita merenung sejenak dan berdoa doa St. Fransiskus dari Asisi:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kecemasan,
jadikanlah aku pembawa harapan,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin
menghibur daripada dihibur,
memahami daripada dipahami,
mencintai daripada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

🙏🙏🙏

Firman Yesus dibawah ini bisa dijadikan pedoman untuk kita agar kita bisa bersikap baik dan bijak dalam menghadapi kesombongan yang disertai penghinaan, sekaligus sebagai pengingat bagi diri kita agar tidak ikut melakukan hal yang tidak baik tersebut:

Lukas 14:11
"Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

* Matius 6:12
"Dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang bersalah kepada kami."

* Matius 5:43-44
"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

* Lukas 6:28
"Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu."

* Lukas 6:32-33;35-36
"Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.
Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

* Matius 5:39
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.“

* Lukas 23:34
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Matius 7:1-5
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Matius 23:25-28
"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."

Yohanes 8:3-11
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

=====

Tips untuk menghindari kesombongan dan penghinaan terhadap orang lain:

1. Sediakan cermin diri, supaya kita bisa berkaca sebelum menilai orang lain.

2. Ingatlah boomerang sebelum menghina orang lain, sebab hinaan itu seperti boomerang, senjata yang bisa berbalik menyerang diri sendiri.

3. Ingatlah kata-kata mutiara ini:

"If You judge people, you have no time to love them." - Sta. Teresa dari Kalkuta

"Respect. Give it to get it."

"Semakin merunduk, semakin berisi." (Ilmu Padi)

"Jangan sombong! Di atas langit masih ada langit."

"Majulah tanpa menyingkirkan. Naiklah tanpa menjatuhkan. Jadilah baik tanpa menjelekkan."

"Belajar menjadi benar itu harus, tetapi jangan sampai hal itu membuat kita merasa paling benar dan akhirnya menjadi sombong."

OTHER POSTS

TRANSLATE

TOTAL PAGEVIEWS

  • "THANKS FOR YOUR VISIT!"



LATEST PRAYER POSTS

 
Copyright © GLORIA DEI World
Design by FlexiThemes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com | Modified by Franky